Popular posts

Anggaisme

Anggaisme adalah sebuah ide pemikiran akan suatu hal sehari-hari menurut pandangan saya yang amat sangat subyektif.Ruang kosong itu menjadi bentukan ekspresi saya ,bentukan itu saya dedikasikan untuk ruang pribadi,untuk mereka yang tertulis didalamnya dan obyek yang terpilih.Jadilah subyektif dan temukan dirimu.

Mengenai Saya

Aku terlahir dengan nama Angga Guidanto Hidayatulah.Masih mencari proses menemukan diriku yang sebenarnya dan sangat menginginkan tantangan kehidupan... Akulah pria yang menantang gunung-gunung tantangan.. Yang siap jatuh dalam jurang kegagalan.. Aku ingin merasakan HIDUP !!!!

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Pagi dan makaryo

Sabtu, 16 Februari 2013
Posted by Catatanku
Mentari digdaya memancarkan cahaya terang, mengalahkan aura dingin mencekam semalam. Menghilangkan tetes-tetes embun terakhir yang tersisa. Seolah-olah mentari mengajak semua insan yang dikangkanginya atas sebuah semangat. Panas mentari yang menggugah pagi ingin mengajarkan panasnya optimisme manusia jika ia membawa semangat itu sepanjang hidupnya. Usaha mentari agaknya cukup berhasil, berduyun-duyun para pedagang sayuran dan buah keluar dari lubuk-lubuk jauh rumah mereka. Bergegas mereka berdampingan dengan mentari, menyusuri jalanan aspal menanjak yang bersimpul mesra dengan hijau padi di kanan dan kiri mereka. Peluh mereka bercucuran setetes demi setetes sambil sesekali desahan nafas mereka berdesakan tak berirama teratur.

Di sudut kota itu, aku melihat jajaran semangat yang terpampang di depanku. Pedagang pasar, pedagang buah, pedagang jajanan, pedagang pakan ternak dan burung, bahkan para penarik becak. Semuanya syahdu ikut larut dalam semanagat sang mentari. Semuanya patuh dalam irama panas dan hilang sang mentari. Seolah-olah mereka mengajarkan sebuah cerita panjang bernama pekerjaan.

Makaryo. Sebutan singkat untuk mereka yang bekerja. Bukan hanya bekerja, namun didalamnya harus ada muatan moral dan tindakan yang bersumber atas hati nurani sehingga bisa disebut berkarya, tidak cuma bekerja. Nurani itulah yang disembulkan mentari pagi ini, dengan ikhlas dan syahdu, dia berbagi kehangatan dan tak berharap atas imbalan kembali.

Paparan mentari semoga juga menjalari teman-temanku yang berkarya disudut barat pulau Jawa -Jakarta. Semoga semangatnya mengajarkan atas sebuah keikhlasan dan keinginan untuk berkarya. Karya atas semua yang kalian inginkan. Negara, orangtua, kekasih dan sahabat. Mentari mengajarkan mereka khusyuk syahdu mencumbu karya masing-masing. Sehingga dengan nada yang riang dan gembira terucap " selamat pagi, selamat berkarya".


Sepenggal cerita Job Seeker

Senin, 04 Februari 2013
Posted by Catatanku

Jika diibaratkan dalam sebuah masa, job seeker adalah sandekala ataupun dini hari menjelang pagi. Di masa inilah dipertaruhkan semua harga diri baik berupa apa yang telah dipikul atas orang tua dan harga diri atas keberadaan diri dalam bentuk manusia intelektual. Kadang seperti sandekala karena pada masa ini adalah masa yang krusial, dimana ada perubahan kosmik antara sore menjadi malam, ada perputaran dimensi oleh terang masuk ke masa kegelapan. Perputaran kosmik saat mentari masuk ke peraduan dan digantikan teman sejatinya sang rembulan, masa dimana seyogyanya semua kegiatan diberhentikan dan sudah sepantasnya menyerahkan kepada alam agar syahdu memeluk perubahan tersebut.

Seperti juga terpampang pada hari itu. Mereka datang bergerombol dari universitas teduh dibawah kaki gunung Slamet, seperti juga saya. Tak hanya membawa selembar kertas transkip dan berlembar-lembar curiculum vitae. Terlebih mereka memikul harga diri orang tua dan memeluk erat mimpi-mimpi yang dibangun dari sekolah dasar.

Dadi wong ! Sebutan yang hiperbolis bagi orang Jawa, dimana eksistensi seorang manusia saat dia mampu hidup secara mandiri dalam hal finansial dan berdiri diatas kakinya sendiri. Frase tersebut juga menekankan bahwa seseorang akan memiliki harga diri dan sebuah kehormatan bila memiliki gawe atau pekerjaan. Sungguh sebuah parafrase yang menyudutkan mereka, bahwa sebelum mereka memeluk pekerjaan, maka eksistensi “wong” yang berjalan di bumi Allah ini dipertanyakan.

Dalam 5 lembar curiculum vitae tersebut mereka masukan data diri yang menarik. Ditonjolkannya sisi-sisi pribadi yang dianggap renyah dan kompeten di mata para penampung kerja. Di lembar itu terpajang berratus-ratus cerita yang dikompresi dalam kalimat-kalimat kecil. Kolom pendidikan formal yang terkompresi hanya menjadi 4 baris menceritakan bertahun-tahun perjuangan merintis jalan panjang dalam pendidikan. Didalamnya pelan-pelan terdengar rintihan, semangat dan cerita panjang atas baju-baju putih merah, putih biru, putih abu-abu dan wangi keformalan perkuliahan. Hanya 4 baris... berjuta cerita itu terpajang mungil di kertas putih.

Itu belum seberapa. Coba perlihatkan kolom penghargaan. Tak semua teman saya memilikinya, kalaupun ada paling banyak pasti hanya 4 atau 5 baris. Dalam baris-baris mungil itu terselubung perjuangan yang tak kalah heroiknya. Mungkin bermiliaran ikhtiar telah beradu kuat dengan riuh gaduh kompetisi. Semuanya terbayar lunas dan berhias rapi sekira paling banyak 5 baris, ataupun kalaupun sebenarnya tidak ada, namun beasiswa pun sebenarnya penghargaan bukan? Oke satu dua baris cukup.

Kolom-kolom lain juga banyak bercerita panjang yang terreduksi dalam baris mungil. Pengalaman organisasi tentu memiliki banyak pahit getir cerita didalamnya. Saat mereka masih muda dan menegakkan bentuk agama baru para mahasiswa –kekritisan- yang dibawa kemanapun dan menjadi identitasnya. Pengalaman ikut terjun ke dalam masyarakat dalam bentuk bakti sosial, pengalaman ikut hanyut dalam luapan kegembiraan malam keakraban, pengalaman sekedar ikut-ikut karena ingin dekat dengan gebetan, dan pengalaman bertarung di kampus lain demi harga diri dan eksistensi organisasi. Tentu semua pengalaman ini takkan bisa dihitung dengan bilangan biner yang ada dunia, belum lagi dengan trilyunan perasaan yang selalu mengikat di tiap momentumnya. Namun gambarannya jelas paling banyak hanya 3 baris !

Ketimpangan antara lembaran curiculum vitae dan semua kenyataan yang bercerita didalamnya, semakin terasa timpang saat para pencari eksistensi hidup ini melangkahkan kakinya ke jobfair. Segala bentuk kebanggaan dan jerih payah dalam bentuk indeks prestasi kumulatif dalam lingkungan fakultas bertemu dengan hutan rimba job fair. Didalamnya banyak manusia-manusia yang berikhtiar pula dengan banyak latar belakang kampus yang berbeda, dengan segudang pengalaman yang banyak pula dan penampilan yang dibuat semenarik mungkin. Sehingga kebanyakan yang membawa kebanggan dalam bentuk mahasiswa terbaik pun kadang terbalik keadaanya dalam peristiwa ini. Semangatnya menjadi kempis dan ciut. Tak seperti temanku, mereka tentu bermental jendral bintang lima, seorang panglima besar,,Jenderal Soedirman.

Dengan semangat yang membara didalam dada, mereka membawa lembaran-lembaran masa depan, ditawarkan pada para perusahaan yang diharapkan mau mengisi hari-hari kedepan. Lembaran itu saja tak cukup, harus ditunjang dengan penampilan yang prima. Maka tak usah ragu dan malu saat baju-baju putih dan setelan celana bahan hitam warisan ayahnya mereka pakai. Bentuk sebuah kecintaan dan kerelaan seorang ayah untuk menjadikan anaknya pria yang sebenarnya. Masih belum cukup juga bahkan parfum temannya mereka pakai, maka lengkaplah sudah metamorfosis para pencari kerja. Mereka berempat berangkat berbarengan dengan baju bagaikan pinguin dan wangi parfum yang sama !
       
        Grha Sabha Pramana yang megah, syahdu ditengah-tengah kungkungan atmosfer keilmuan, terpapar sayu oleh mentari pagi itu. Kesyahduan pagi itu dirusak oleh hiruk pikuk mengular para pencari kerja. Antrian mereka mengular mengelilingi Grha Sabha,mencengkram erat joglo megah tersebut. Dalam antrian itu, terselip temanku, bergerombol mereka asyik berbicara dalam bahasa ibunya. Orang-orang blakasuta ini tak sekalipun terselip malu untuk berbicara dengan bahasa tanah airnya –Banyumasan. Sungguh mentalitas jenderal bintang lima,sang panglima besar.

                Memasuki Grha Sabha mereka seperti menyingkap mesin waktu. Ditiap sudutnya menawarkan sebuah kelokan-kelokan kehidupan yang berbeda. Disetiap senyuman para petugas HRD tersingkap misteri atas apa yang akan mereka hadapai nantinya. Ditiap stand terbentang pilihan dan jenjang-jenjang mimpi yang diberhalakan bernama karier. Grha Sabha seperti gua dengan jalan keluar yang terjal , berkelok dan takkan pernah tahu kemana arah gua itu mengarah. Dan mereka sibuk didalamnya, menimang dengan baik-baik pilihan yang diambil sambil sesekali menggantungkan impian di tiap lorong masa depan mereka.
                Maka temanku, sebut saja inisialnya Fajar. Dengan bahasa tanah airnya menayakan sopan pada HRD di salah satu stand

“Mbak mau apply” (seharusnya dibahasakan dengan bahasa Inggris yang fasih), namun sungguh mentalitas seorang mahasiswa panglima besar tanpa ragu membahasakannya dengan bahasa Banyumasan.

“Iya mas, gimana?” jawab sang HRD dengan senyum simpul dan balutan setelan kantorannya.

“Ini mau appli (kembali dengan lidah Banyumasannya)” tambah temanku lagi

“Gimana ya mas?” tanya sang HRD lagi dengan kesabaran SOP yang dipegangnya teguh

“Appli mbak..Appli”(masih dengan dialek banyumas dengan tambahan volume dan intonasi yang semakin kental) cerocos temanku.

“Oooh aply (dibahasakan dengan bahasa Inggris baik dan benar sehingga seperti ngomong alay dengan tembahan huruf p ditengah antara a dan l) Jawab sang HRD karena telah menemukan simpul kebingungannya sambil menyinggungkan senyum manis khas kantoran.

Sore pun mulai menjelang. Saat rutinitas mulai surut, begitu pula hiruk pikuk di Grha Sabha saat itu. Semuanya telah usai dan babak selanjutnya adalah menanti dan terus menanti. Semoga ada seberkah kepastian menggantung di lembaran masa depan yang tertumpuk menggunung di stand kesukaan mereka.

Sore itu mereka pulang ke kontrakanku. Di perjalanan mereka ditemani sinar-sinar terakhir sang mentari, berwarna oranye yang hampir kalah oleh hitam pekat malam. Keduanya saling bersanding untuk kemudian sang oranye sirna dan menghilang. Berkumandang pula adzan-adzan di tiang masjid kota Yogyakarta dan dialek-dialek Jogja yang terdistorsi dalam lekukan adzan. Temanku pun pulang dengan sandekala mendekap erat tubuh dan jiwanya.

“If you can’t fly then run, if you can run then walk,if you can’t walk then crawl, but whatever you do you have to keep moving forward”
-marthin Luther King-

In the name of LOVE

Sabtu, 05 Januari 2013
Posted by Catatanku

Aku selalu terkagum-kagum dengan orang dibelakang layar. Ada semacam keindahan yang dipadu padankan dengan kecerdasan didalamnya. Aku pun terlahir dari rahim seorang kawulo wingking, Ibuku, darinyalah aku belajar tentang manajemen pertama kali. Tentang sebuah daya dan upaya untuk bisa membuat dapur tetap eksis dengan kepulan asapnya  dan masih bisa bernafas di hari esok, bahkan kalau pun ada uang sisa bisa dimasukan kedalam tabungan. Didalamnya juga terdapat banyak seni-seni untuk melakukan alternatif manajerial tersebut, tak jarang Ibuku sering memasak nasi yang tak habis malam hari menjadi nasi goreng, atau kalaupun tak ada daging kadang dia memasak kikil atau hanya sekedar ati rempela.  Setidaknya setiap orang punya alas an untuk menggilai orang belakang layar.

Bapakku kemudian mengenalkanku dengan pertunjukan wayang kulit. Saat itu aku masih belum genap 6 tahun, dan aku merasakan ada energi yang sangat kuat yang menggerakan ragaku untuk bangun di tengah malam dan memaksa mataku untuk tak terlelap. Maka malam hari saat bulan purnama menjelang, aku dan Bapak sudah bersiap-siap diatas sepeda Phoenixnya. Diikat kakiku agar tak hancur dirajam jari-jari roda sepeda. 

Saat bulan bertahta atas malam, kedua insan yang terendam dalam kegelapan, menyisir perlahan menuju arah suara gamelan. Aku hanya terdiam diatas sadel, yang aku ingat hanya purnama, suara gamelan beradu dengan gemerisik dan gegap gempita jangkrik sepanjang jalan yang kulalui dan sesekali nafas putus-putus bapakku.

Wayang kulit seakan semakin mengukuhkan kecintaanku atas orang dibalik layar. Didalam pagelaran yang megah dan bergelimang dalam cahaya terang benderang akan terasa kosong dan hambar jika sang dalang tak mampu membingkai cerita dengan baik. Memberikan nyawa dan  meniupkan suara-suara yang sesuai dengan karakter watak dan memberikan koordinasi dengan para nayaga untuk mapu memberikan efek dramatis sesuai dengan adegan. Semuanya dikontrol oleh satu orang. Yang menentukan jaya atau tidaknya sebuah pagelaran wayang. Dan semuanya bercampur baur antara koordinasi dan keindahan seni. Sungguh hebat para orang di balik layar.

Maka atas semua memori yang terhampar di masa lampauku. Aku terdampar di sini. Diantara kepungan gunung Merapi dan Merbabu, diantara ratusan ribu kepala bercap mahasiswa. Ya,,aku masih lekat dengan nama mahaiswa dan segala pernak pernik didalamnya. Saat mereka yang mendahuluiku lulus atau setelahku lulus sudah mulai berbincang asyik tentang gaji, bonus, karier, kesempatan. Aku pun menghela nafas menghilangkan kegalauanku bersama secangkir kopi dan segepok optimism. Aku berjuang atas apa yang aku cintai dan perjuangkan sedari aku kecil. Sebuah profesi yang diantaranya bermuara antara eksotisme keindahan seni dan kemampuan mencapai tujuan.

Cinta adalah gejolak passion paling kuat
Aku melakukannya atas cinta dan buah cintaku adalah hal bernama kepuasan. Efek samping dari cinta hanya pemuas perut dan dahaga agar aku tetap terus bisa mencintai.

Gaudemus igitur

Kamis, 02 Agustus 2012
Posted by Catatanku
Gaudeamus igitur Juvenes dum sumus. Post jucundam juventutem Post molestam senectutem Nos habebit humus. ........................ ........................ ........................ ........................ Vivat academia! Vivant professores! Vivat membrum quod libet Vivant membra quae libet Semper sint in flore.
Syair-syair itu terdengar aneh di membran telinga kami . Vokal yang naik turun dalam alunan beat yang diatur oleh choirmaster. Nadanya rancak dan teratur. Setiap choir memainkan perannya masing-masing.Peran yang telah diamanatkan dan terbagi dalam sopran, alto, tenor dan bas. Masing-masing konsisten atas perannya dan membentuk nada-nada dinamis yang saling mengisi jiwa lagu tersebut. Harmonisasi semakin terasa menusuk dengan alunan piano yang mengalun smooth. Disitulah aku mendengar nada aneh dengan pakaian panjang selutut dan topi aneh bernama toga.

 Hari ini semua orang bahagia, bergandengan tangan sambil menyunggingkan senyum yang seolah mengembang sedari padi, tak lupa riasan make up terbaik yang disiapkan sedari subuh.Seolah hari ini adalah balasan dendam dan luapan kegembiraan setelah sekian tahun bergelut dengan buku dan sekian ratus galau dalam cinta. Kegembiraan itu terasa lebih manis dengan lusinan sanak family yang ikut merayakan suksesi, para pasangan yang sedari pagi mengantri membeli bunga dan belasan teman (biasanya yang belum lulus) mengucapkan selamat. Inilah memontem untuk hidup, untuk kembali memberikan perspektif tentang pencapain hidup. 

 Mungkin wisuda merupakan akhir dari sebuah studi tapi hakikatnya wisuda merupakan kehidupan. Seperti halnya gaudemus yang secara eksplisit menceritakan kehidupan. Mengajak kita untuk bergembira untuk ceria selagi maut belum merenggut nyawa. Ajakan itu pula yang membuat kita kembali merenungkan apa obsesi kehidupanmu. Tentu bukan sekedar bayi, tumbuh, remaja, alay(kalo ada yang mengalami masa ini), dewasa, bekerja, menikah, punya anak, dsb,dsb. Tidakkah hidup itu terlampau singkat untuk dilakukan secara formalitas. Sempr sint in flore!!!

BUNTU

Sabtu, 24 Desember 2011
Posted by Catatanku
Hari ini benar-benar buntu. Pagi yang biasanya berbinar dan menyiramkan percik-percik inspirasi sepertinya tak berpendar kali ini. Otakku berputar tak karuan di episentrumnya, memikirkan logika-logika sebuah penelitian, hipotesis dan segala macam yang berhubungan dengan sebuah jalan keluar dari universitas bernama Skripsi. Kebiruan langit pagi itu serasa tak berarti, hanya sebuah panorama tanpa makna. Aku yang terbiasa mencecak kagum pada pagi, kali ini di saat paling pagi berhadapan dengan laptop. Di jendelanya aku mengintip peluang, memasuki relung kata per kata dan menghitung lewat kolom kolom Excel, sambil sesekali berdoa agar signifikansi tercipta di pedalaman output SPSS. Entahlah, agaknya sebuah penarikan kesimpulan diperlukan berton ton rumus dan penelitian terdahulu. Itulah kenapa mungkin ilmu itu seperti terpasung, atau mungkin aku terlalu lebih tenggelam dalam sebuah subyektifitas atas diriku sendiri dalam blog maupun tulisan. Entahlah..

Kali ini aku bergegas berangkat pagi, melakukan hal yang wajib dalam pengejaranku dari rutinitas kuliah. Hari ini aku konsultasi. Semoga kali ini dosenku banyak memberikan petuah atau sekedar tips untuk penelitianku.

Pagi itu berderet para mahasiswa bergerombol menunggui dosen. Berbinar rona muka mereka sambil menenteng map berwarna warni tebal yang berisi abstraksi dan setumpuk analisis yang berhubungan dengan penelitian mereka. Mahasiswa Akuntansi seperti tak pernah habis-habisnya semangat mereka, di ujung matanya yang tersirat keoptimisan sepertinya berkata “ Aku datang, dunia kerja....” Mereka seperti kawanan domba yang digiring oleh arus sebuah kemapanan, masuk ke kandang besar penggemukan bernama universitas, dijampi jampi sebuah rapalan mantra bernama ekonomi dan satu per satu diberi thick mark dan bertuliskan “Akuntansi”. Seperti halnya domba, sesekali mereka apatis dan mecerna setiap bahan penggemukan tanpa proses internalisasi di otak, yang penting aku gemuk (baca :Nilainya), aku berbeda dan yang akan pertama dijemput mobil bak pick up (dunia kerja). Agaknya mobil pick up tersebut bukan membawa mereka ke tukang jagal tentunya.

Deretan mahasiswa yang bergerombol adalah sebuah komoditas. Komoditas untuk para pencari peluang (baca : Uang). Seperti halnya kampus rakyat lainnya, kampusku masih bersliweran penjaja makanan kecil, dan makanan pasar tradisional. Sedikit banyak proses menunggu dosen telah menjadi rentetan sebuah kesempatan si penjaja untuk mengepulkan asap di dapurnya. Para mahasiswa yang kelelahan menunggu atau yang bahkan kosong perutnya sedari bilik kosan menjadi target pasar potensial.
“ Jajan mas..jajan mbak” sebuah bentuk promosi paling kuno dan ia ucapkan berulang-ulang. Agaknya ilmu marketing juga dikunyah dalam nalarnya.
“Gasik mas..njajan riyin mriki”..sapa sang penjaja ramah.
“Injih bu” jawabku sambil menyiapkan ruang kosong di perutku yang juga sebenarnya kosong.
“Udah lama jualan bu?”
“Sampun mas..kira-kira 18 tahun lah, lumayan lah tambah-tambah penghasilan”
“Ooohh..lama yah.kenapa jualan makanan tradisional bu??
“Lha wong saya suka mas, lagian saya merasa bahagia bisa bikin makan tradisional”

Jawaban ibu yang polos dan simple itu menohokku di dada. Mengguyur air dingin di kepalaku. Mungkin itu adalah jawaban yang lumrah untuk seorang yang kadang tidak kita duga. Passion itu lah yang dimiliki ibu-ibu penjaja makanan ini. Passion adalah segala hal yang sangat amat dinikmati sehingga tidak terpikir untuk tidak melakukannya. Passion adalah dinamo yang menggerakan seluruh elemen tubuh kita untuk melakukannya, digerakan secara dinamis dan elok dari sudut tubuh kita yang peling bermakna : hati. Hari ini mungkin aku tidak bertemu dosenku, tapi hari ini aku belajar tentang passion. Mungkin aku menulis sebuah penelitian, atau melakukan apapun lebih terdorong karena sebuah keharusan dan kewajiban yang harus dijalankan. Ataupun hanya sebuah pemenuhan kebutuhan semu. Mungkin suatu kali aku terbentur tembok dan buntu dan berhenti. Tak ada desakan untuk berbuat lebih baik, tidak ada sebuah keasyikan mencoba hal-hal baru, tidak ada ekstase kegilaan melakukan hal yang diluar nalar. Itulah passion... Itulah kenapa aku selalu tersudut dan berjalan tanpa semangat..


Kawan..sudahkah kau menemukan passion hidupmu ?

Banjarnegara, hakikat embun kalbumu

Sabtu, 21 Mei 2011
Posted by Catatanku

Hari masih pagi.Mentari masih bersembunyi di peraduan, samar-samar sinarnya muncul menembus kegamangan awan. Biru-biru cerah muda membias syahdu diterpa setitik-titik cahaya yang timbul dan tenggelam di pertengahan April. Satu per satu burung keluar, menyambut sentuhan pertama mentari. Berdansa mereka di rekahan titik-titik mentari yang semakin jumawa membumbung di horizon. Seperti juga aku, pagi benar aku siapkan kuda besiku. Sudah sedari pagi aku mandikan dia. Rupanya aku terlalu antusias seperti burung gereja di pagi ini.

Silvie - julukan manis untuk kuda besiku- menembus rongga-rongga pagi, menembus putih suci jejatuhan embun yang dingin dan segar. Aku pun laksana embun, kedinginan setelah semalam bersemayam di dedaunan,,aku semalaman menunggu hangat itu,,menyongsong aku menunggu pagi,walau sekejap mata aku diterjang kehangatan itu tapi setetes kebermaknaan lah hakikatku ada. Pagi ini aku menerjang aspal-aspal kedinginan jalanan Bukateja, masih lengang tak banyak hiruk pikuk peradaban terlihat. Tujuanku ke Banjarnegara, daerah yang pernah aku kunjungi sewaktu masih booming promosi murahan Bonbin Seruling Mas, dan kami -aku dan keluargaku- representasi keluarga berencana yang baru beranjak mapan menjadi sasaran empuk promosi itu. Tapi itu udah sangat lama, waktu aku masih asyik dengan tamagochi sepertinya. Memilih jalur Purbalingga pun sebenarnya jalur yang tidak efisien, karena aku memilih jalur yang memutar. Tapi kabar burung yang mengatakan lewat jalur Banyumas lebih berbahaya karena jalurnya masih remaja, dalam artian jerawatan atau bopeng kanan dan kiri.

Purbalingga pun masih menggeliat waktu aku melintas. Jalur sibuk para pekerja pabrik di jalan arterinya masih belum terlihat. Aku seperti tersedot ke mesin waktu, saat masih digdaya dengan putih abu-abu atau putih krem -kebanggaan almamater ganeshaku-. Saat aku masih terlalu muda memandang dunia dan menjamah tiap jengkal Purbalingga. Hawa pagi ini masih sama, saat aku lewat terminal, seperti kulihat bayangku menanti angkutan yang tak jua datang. Saat aku bergegas menghindari jarum jam menunjuk angka tujuh. Bukateja masih laksana kota mati, kota persinggahan antara Banjar dan Purbalingga ini masih lelap dalam tidurnya. Jembatannya yang panjang dan sungai yang sombong membelah kedua daratan itu, landmark kota persinggahan ini.

Banjarnegara masih jauh, belum lagi aku sampai ke Klampok. Akhirnya sampai juga ke Klampok, aku disambut gemerlap pesta demokrasi di Banjarnegara. Muka-muka sok mengayomi menghiasi tiap sudut kota, tipenya hampir sama. Pria setengah baya dengan setelan formal, muka dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan pencitraan yang bersahaja dan yang paling dominan adalah jeans hitam membalut tubuh, setelan itu rupanya belum mampu menyembunyikan perutnya yang secara sembrono menyembul di balutan pencitraan yang dibuat. Taglineku untuk ini : emang perut gak bisa bohong.. :P

Jalanan Banjar masih memanjang. Dataran rendah di kaki Pegunungan Dieng ini terlihat datar. Jalan hanya lurus tanpa banyak pemandangan berarti. Datar seperti kota ini.

Aku pun akhirnya sampai di kostmu. Kumpulan para mahasiswa kebidanan yang berdesakan di bedeng kecil di tengah kota Banjarnegara. Mereka masih muda, seumuranku tapi mempunyai kutukan profesi, yaitu selepas wisuda harus terbiasa dengan panggilan Ibu. Ya, Ibu bidan. Tak seperti biasanya kau sudah siap. Terlihat menawan di mataku yang sedari pagi kelilipan debu jalanan Banjarnegara. Hari ini kami akan berkunjung ke rumah saudaranya di Batur. Tempat dia menghabiskan waktu sewaktu ia masih balita. Dan aku pun mafhum dia terlihat antusias menyambut perjalanan ini. Masa lalu itu layaknya mozaik, tercecer tak jelas di kolong dunia. Maka temukanlah mozaik itu satu per satu agar menjadi penyemangatmu kelak.

( Aku dan kamu laksana embun pagi. Menunggu semalaman menerpa hijau dedaunan, saat mentari merekah dan menggoda atas hangatnya. Hakikat atas kebermaknaan adalah embun itu. Sedetik hilang diterpa mentari yang semalam ia tunggu. Tapi kebermaknaanlah tujuan hidupnya )



* cerita selanjutnya TRIP TO BATUR ======> ON GOING PROJECT

Pasar Kliwon ; sebuah cerita untuk masa depan

Kamis, 12 Mei 2011
Posted by Catatanku
Hari itu..ya hari itu,sungguh tak telupakan dan hina dina,hehehe..Tantangan yang amat sangat susah untuk diduga.

Minggu kemarin,kami terguncang sambil tertawa saat angkudes membawa lari tawa kami.Candaan atas teknik mendapatkan pekerjaan yang paling efektif dan efisien berputar di episentrum otak kami.Teknik ini akan merepresentasikan kehandalanmu dalam public speaking, lobbying tingkat tinggi, sedikit ancaman atau segurat muka penuh memelas.Cerminan pribadimu sampai jam 11. Baju kusam sekumal-kumalnya menempel mesra di tubuh kami yang sedari sore tidak berkenalan dengan air, berkolaborasi membentuk simfoni dengan bau mulut yang tak terpoles pasta gigi pagi ini. Sebuah kenyataan atas manusia yang sejatinya bertahta rasionalitas bernama mahasiswa : Pagi ini.

Sudah setengah jam aku memutari Kliwon,sudah banyak lapak yang aku tanyakan kesediaannya.Kadang penolakan halus dan kasar aku telan mentah-mentah.Gelengan kepala atau malah lambaian tanda mengusir kesekiaan kalinya aku terima, tapi itu baru permulaan cerita ini...

Teman-teman yang lain juga masih terlihat berputar kesana kemari, mencari lowongan yang tak pasti.Baru 2 kali putaran, mata kami memincing iri dan melihat sinis.Rupanya Naim sudah mendapat gawe.Celemek KW 2 membungkus lekat tubuhnya yang juga KW 10 karena belum mandi.Kedua tangannya penuh membawa celemek warna-warni cap murahan bikinan sablonan kelas taipan sablon abal-abal.Mukanya berseri seakan kearoganan menyelimuti tiap sudut tawanya, sangat serasi dengan warna merah pasaran dan kuning gigi celemek jualannya. Dia orang pertama yang menyabet pekerjaan, fresh graduate dari Universitas Zona Nyaman (hehe,jadi inget Imeng :P).

Putaran ketiga masih kulihat banyak teman-teman kebingungan.Ade masih canggung berjalan menyisir sisi kiri pasar, mungkin sedang mencari kosakata Bahasa Jawa yang dulu pernah dia buat kamus di semester satu. Anisa, yang biasanya terlihat senyumnya,kali ini masam sambil membenarkan rambut kritingnya yang semalam terbakar, gayanya dengan baju soundrenaline memberikan ketakutan mungkin jika dia dikira bromocorah wanita dengan tato Jagalah Kebersihan.Sesekali terlihat Intan dan Imeng sungguh berat mencari kerja dengan kulit mulus kalian.Dan Wie Lie masih berjalan setengah berlari sambil memikirkan alasan apa untuk bisa menggerakan hati orang pasar agar memperkerjakannya. Tio rupanya sudah berganti profesi,setelah setengah jam lalu mondar mandir sebagai broker air mineral, kali ini dia terlihat percaya diri meneteng jajanan pasar, klanting dan kawan-kawannya. Sungguh dinamisasi yang luar biasa oleh Ketua Semnas ini, dia sekarang pun resmi menyandang gelar Cabang Berjalan Klanting Gurih.Kami membaur menanyakan kesana kemari, mencari setipis-tipisnya kesempatan, mencari ilmu yang tak pernah ditulis oleh Professor manapun.

Aku berhenti sejenak di depan pasar. Kulihat banyak muka-muka agak eksotis tersiram cahaya matahari sedari siang.Ardhi masih ketawa ketiwi sambil berbincang-bincang dengan tukang parkir dan andong kuda.Aku harap dia tidak sedang mempresentasikan dirinya untuk menggantikan kuda. Denis sudah resign dari dunia entertainment setelah dia selaku Pimpinan Konser dan artisnya Eto merasa tidak diapresiasi oleh pendengar segmentasi pasar. Baru sebuah lagu didendangkan oleh Eto dengan penuh penghayatan dan nada-nada yang tak lepas dari pitch sudah diganjar dengan bulatan kecil warna perak dengan angka 1 dan nol dua mengekor. Track recordnya sebagai penyanyi kampus dan pencitraan mukanya yang agak mendukung pun sepertinya tak banyak membantu si Penjual Bawang untuk tak ragu menambal mulutnya dengan receh dua ratus.

Aku masuk ke pasar lagi,aku memberanikan diri menanyakan pekerjaan ke penjual bawang. Mukanya sudah tak muda lagi, tempaan berpuluh-puluh tahun atas ekspektasi mencari laba. Dagangannya masih banyak, kadang juga bau-bau tak sedap tanda busuk kerap tercium.Stock opname bulan lalu mungkin belum BEP. Kutatap matanya yang mulai lelah, kuajukan alasan secara halus dengan bahasa Kromo Inggil. Rupanya beliau sedari tadi belum ada satu pun konsumen yang mendekat dan menyatakan keengganan untuk memperkerjakanku sampai jam 11. Aku pun berlalu dan si Mbah rupanya memanggilku sambil berucap "Kiye nggo ongkos bali nduk, sinau sing pinter ben dadi dokter ".Tangannya mengulurkan lembaran Kapitan Pattimura. Sejurus kemudian dia tersenyum memamerkan giginya yang merah karena kinang. Mata agak berkaca-kaca dan gemetar menerima hadiah itu (lebe).Dan aku belajar hari ini bahwa yang besar dan prestige tidak selamanya memberi kesempatan, justru banyak orang yang kekurangan dan tertindas lebih memperhatikan sekitar.

Uang 3000 sudah aku genggam setelah seribu dari penjual bawang dan 2000 dari jasa cuci piring mie ayam. Masih defisit 2000, kembali aku berputar untuk kesekian kalinya.Rupanya kebanyakan temanku sudah merasa nyaman bekerja. Wie Lie sedang asyik memutar-mutar lombok, berkelompok dengan Meidita dan Sebastian. Denis rupanya masih terpukul dengan kemunduran bisnis entertainmentnya, dan merasa keberatan setelah ditinggal artisnya untuk membabukan diri :P ."Kang dah dapet berapa ??" tanyaku
" Wah masih stagnan kang "
Akhirnya kami sepakat jalan-jalan ke daerah perumahan belakang pasar. Dani dan Ami terlihat membungkuk di depan sebuah rumah, rupanya mereka sedang bernegosiasi.Kami lewat sambil lalu. Kemudian mereka memanggil kami dan secara eksplisit mereka telah membuktikan kapabilitas mereka dalam mencari pekerjaan. Dan 2 motor pun menanti untuk dimandikan. Rupanya kami mendapat pekerjaan yang lekat dengan keimanan seorang insan manusia kepada Tuhannya. Kami bekerja atas asas mulia " Kebersihan adalah sebagian dari Iman" dan berharap pahala runtuh sekenanya. Orang pesimis sie bilang kita jadi pembokat :P

Setelah sejam puas memandikan motor orang lain,kami sepakat istirahat. Sebelum si punya rumah - ibu ibu setengah baya dengan perut tingkat tiga- menunjuk ke arah pojok rumah dan menyuruh dengan nada sol " Itu potnya dipindahin ya mas ".Setelah sejam bekerja atas titah keimananan kami selanjutnya setengah merunduk menjinjing jinjing pot. Dan secara yudikatif, status pekerjaan kami berubah menjadi desainer outdoor.Bahasa orang pesimisnya sie tukang kebun :P

Dani dan Ami masih terlihat suaranya dari luar.Mereka bertugas menyapu dan mengepel, tugas sehari-hari yang jamak dilakukan kaum Hawa. Maka mereka pun secara simultan berjalan ke arah kanan dan kiri ; memikat bagai balerina yang menyisir panggung. Aih, rupanya mereka terlalu mendalami pekerjaan ini.

Akhirnya selesai sudah pekerjaan kami.Uang dua puluh ribu seakan tersenyum kepada kami berempat. Tanda kami bisa pulang ke BBI singasari,karanglewas.

Perjalanan hari ini pun usai, atas petualangan pengalaman tanpa batas. Tantangan kali ini bukti sahih kedewasaan kalian. Hari itu, kami menahbiskan diri bekerja sekenanya. Itulah hakikat kita berada dalam lingkaran keluarga ini. Untuk melayani, tanpa lelah, maksimal dan tak kehilangan senyum.