Gaudemus igitur
Gaudeamus igitur Juvenes dum sumus. Post jucundam juventutem Post molestam senectutem Nos habebit humus. ........................ ........................ ........................ ........................ Vivat academia! Vivant professores! Vivat membrum quod libet Vivant membra quae libet Semper sint in flore.
Syair-syair itu terdengar aneh di membran telinga kami . Vokal yang naik turun dalam alunan beat yang diatur oleh choirmaster. Nadanya rancak dan teratur. Setiap choir memainkan perannya masing-masing.Peran yang telah diamanatkan dan terbagi dalam sopran, alto, tenor dan bas. Masing-masing konsisten atas perannya dan membentuk nada-nada dinamis yang saling mengisi jiwa lagu tersebut. Harmonisasi semakin terasa menusuk dengan alunan piano yang mengalun smooth. Disitulah aku mendengar nada aneh dengan pakaian panjang selutut dan topi aneh bernama toga.
Hari ini semua orang bahagia, bergandengan tangan sambil menyunggingkan senyum yang seolah mengembang sedari padi, tak lupa riasan make up terbaik yang disiapkan sedari subuh.Seolah hari ini adalah balasan dendam dan luapan kegembiraan setelah sekian tahun bergelut dengan buku dan sekian ratus galau dalam cinta. Kegembiraan itu terasa lebih manis dengan lusinan sanak family yang ikut merayakan suksesi, para pasangan yang sedari pagi mengantri membeli bunga dan belasan teman (biasanya yang belum lulus) mengucapkan selamat. Inilah memontem untuk hidup, untuk kembali memberikan perspektif tentang pencapain hidup.
Mungkin wisuda merupakan akhir dari sebuah studi tapi hakikatnya wisuda merupakan kehidupan. Seperti halnya gaudemus yang secara eksplisit menceritakan kehidupan. Mengajak kita untuk bergembira untuk ceria selagi maut belum merenggut nyawa. Ajakan itu pula yang membuat kita kembali merenungkan apa obsesi kehidupanmu. Tentu bukan sekedar bayi, tumbuh, remaja, alay(kalo ada yang mengalami masa ini), dewasa, bekerja, menikah, punya anak, dsb,dsb. Tidakkah hidup itu terlampau singkat untuk dilakukan secara formalitas. Sempr sint in flore!!!
BUNTU
Hari ini benar-benar buntu. Pagi yang biasanya berbinar dan menyiramkan percik-percik inspirasi sepertinya tak berpendar kali ini. Otakku berputar tak karuan di episentrumnya, memikirkan logika-logika sebuah penelitian, hipotesis dan segala macam yang berhubungan dengan sebuah jalan keluar dari universitas bernama Skripsi. Kebiruan langit pagi itu serasa tak berarti, hanya sebuah panorama tanpa makna. Aku yang terbiasa mencecak kagum pada pagi, kali ini di saat paling pagi berhadapan dengan laptop. Di jendelanya aku mengintip peluang, memasuki relung kata per kata dan menghitung lewat kolom kolom Excel, sambil sesekali berdoa agar signifikansi tercipta di pedalaman output SPSS. Entahlah, agaknya sebuah penarikan kesimpulan diperlukan berton ton rumus dan penelitian terdahulu. Itulah kenapa mungkin ilmu itu seperti terpasung, atau mungkin aku terlalu lebih tenggelam dalam sebuah subyektifitas atas diriku sendiri dalam blog maupun tulisan. Entahlah..
Kali ini aku bergegas berangkat pagi, melakukan hal yang wajib dalam pengejaranku dari rutinitas kuliah. Hari ini aku konsultasi. Semoga kali ini dosenku banyak memberikan petuah atau sekedar tips untuk penelitianku.
Pagi itu berderet para mahasiswa bergerombol menunggui dosen. Berbinar rona muka mereka sambil menenteng map berwarna warni tebal yang berisi abstraksi dan setumpuk analisis yang berhubungan dengan penelitian mereka. Mahasiswa Akuntansi seperti tak pernah habis-habisnya semangat mereka, di ujung matanya yang tersirat keoptimisan sepertinya berkata “ Aku datang, dunia kerja....” Mereka seperti kawanan domba yang digiring oleh arus sebuah kemapanan, masuk ke kandang besar penggemukan bernama universitas, dijampi jampi sebuah rapalan mantra bernama ekonomi dan satu per satu diberi thick mark dan bertuliskan “Akuntansi”. Seperti halnya domba, sesekali mereka apatis dan mecerna setiap bahan penggemukan tanpa proses internalisasi di otak, yang penting aku gemuk (baca :Nilainya), aku berbeda dan yang akan pertama dijemput mobil bak pick up (dunia kerja). Agaknya mobil pick up tersebut bukan membawa mereka ke tukang jagal tentunya.
Deretan mahasiswa yang bergerombol adalah sebuah komoditas. Komoditas untuk para pencari peluang (baca : Uang). Seperti halnya kampus rakyat lainnya, kampusku masih bersliweran penjaja makanan kecil, dan makanan pasar tradisional. Sedikit banyak proses menunggu dosen telah menjadi rentetan sebuah kesempatan si penjaja untuk mengepulkan asap di dapurnya. Para mahasiswa yang kelelahan menunggu atau yang bahkan kosong perutnya sedari bilik kosan menjadi target pasar potensial.
“ Jajan mas..jajan mbak” sebuah bentuk promosi paling kuno dan ia ucapkan berulang-ulang. Agaknya ilmu marketing juga dikunyah dalam nalarnya.
“Gasik mas..njajan riyin mriki”..sapa sang penjaja ramah.
“Injih bu” jawabku sambil menyiapkan ruang kosong di perutku yang juga sebenarnya kosong.
“Udah lama jualan bu?”
“Sampun mas..kira-kira 18 tahun lah, lumayan lah tambah-tambah penghasilan”
“Ooohh..lama yah.kenapa jualan makanan tradisional bu??
“Lha wong saya suka mas, lagian saya merasa bahagia bisa bikin makan tradisional”
Jawaban ibu yang polos dan simple itu menohokku di dada. Mengguyur air dingin di kepalaku. Mungkin itu adalah jawaban yang lumrah untuk seorang yang kadang tidak kita duga. Passion itu lah yang dimiliki ibu-ibu penjaja makanan ini. Passion adalah segala hal yang sangat amat dinikmati sehingga tidak terpikir untuk tidak melakukannya. Passion adalah dinamo yang menggerakan seluruh elemen tubuh kita untuk melakukannya, digerakan secara dinamis dan elok dari sudut tubuh kita yang peling bermakna : hati. Hari ini mungkin aku tidak bertemu dosenku, tapi hari ini aku belajar tentang passion. Mungkin aku menulis sebuah penelitian, atau melakukan apapun lebih terdorong karena sebuah keharusan dan kewajiban yang harus dijalankan. Ataupun hanya sebuah pemenuhan kebutuhan semu. Mungkin suatu kali aku terbentur tembok dan buntu dan berhenti. Tak ada desakan untuk berbuat lebih baik, tidak ada sebuah keasyikan mencoba hal-hal baru, tidak ada ekstase kegilaan melakukan hal yang diluar nalar. Itulah passion... Itulah kenapa aku selalu tersudut dan berjalan tanpa semangat..
Kawan..sudahkah kau menemukan passion hidupmu ?
Kali ini aku bergegas berangkat pagi, melakukan hal yang wajib dalam pengejaranku dari rutinitas kuliah. Hari ini aku konsultasi. Semoga kali ini dosenku banyak memberikan petuah atau sekedar tips untuk penelitianku.
Pagi itu berderet para mahasiswa bergerombol menunggui dosen. Berbinar rona muka mereka sambil menenteng map berwarna warni tebal yang berisi abstraksi dan setumpuk analisis yang berhubungan dengan penelitian mereka. Mahasiswa Akuntansi seperti tak pernah habis-habisnya semangat mereka, di ujung matanya yang tersirat keoptimisan sepertinya berkata “ Aku datang, dunia kerja....” Mereka seperti kawanan domba yang digiring oleh arus sebuah kemapanan, masuk ke kandang besar penggemukan bernama universitas, dijampi jampi sebuah rapalan mantra bernama ekonomi dan satu per satu diberi thick mark dan bertuliskan “Akuntansi”. Seperti halnya domba, sesekali mereka apatis dan mecerna setiap bahan penggemukan tanpa proses internalisasi di otak, yang penting aku gemuk (baca :Nilainya), aku berbeda dan yang akan pertama dijemput mobil bak pick up (dunia kerja). Agaknya mobil pick up tersebut bukan membawa mereka ke tukang jagal tentunya.
Deretan mahasiswa yang bergerombol adalah sebuah komoditas. Komoditas untuk para pencari peluang (baca : Uang). Seperti halnya kampus rakyat lainnya, kampusku masih bersliweran penjaja makanan kecil, dan makanan pasar tradisional. Sedikit banyak proses menunggu dosen telah menjadi rentetan sebuah kesempatan si penjaja untuk mengepulkan asap di dapurnya. Para mahasiswa yang kelelahan menunggu atau yang bahkan kosong perutnya sedari bilik kosan menjadi target pasar potensial.
“ Jajan mas..jajan mbak” sebuah bentuk promosi paling kuno dan ia ucapkan berulang-ulang. Agaknya ilmu marketing juga dikunyah dalam nalarnya.
“Gasik mas..njajan riyin mriki”..sapa sang penjaja ramah.
“Injih bu” jawabku sambil menyiapkan ruang kosong di perutku yang juga sebenarnya kosong.
“Udah lama jualan bu?”
“Sampun mas..kira-kira 18 tahun lah, lumayan lah tambah-tambah penghasilan”
“Ooohh..lama yah.kenapa jualan makanan tradisional bu??
“Lha wong saya suka mas, lagian saya merasa bahagia bisa bikin makan tradisional”
Jawaban ibu yang polos dan simple itu menohokku di dada. Mengguyur air dingin di kepalaku. Mungkin itu adalah jawaban yang lumrah untuk seorang yang kadang tidak kita duga. Passion itu lah yang dimiliki ibu-ibu penjaja makanan ini. Passion adalah segala hal yang sangat amat dinikmati sehingga tidak terpikir untuk tidak melakukannya. Passion adalah dinamo yang menggerakan seluruh elemen tubuh kita untuk melakukannya, digerakan secara dinamis dan elok dari sudut tubuh kita yang peling bermakna : hati. Hari ini mungkin aku tidak bertemu dosenku, tapi hari ini aku belajar tentang passion. Mungkin aku menulis sebuah penelitian, atau melakukan apapun lebih terdorong karena sebuah keharusan dan kewajiban yang harus dijalankan. Ataupun hanya sebuah pemenuhan kebutuhan semu. Mungkin suatu kali aku terbentur tembok dan buntu dan berhenti. Tak ada desakan untuk berbuat lebih baik, tidak ada sebuah keasyikan mencoba hal-hal baru, tidak ada ekstase kegilaan melakukan hal yang diluar nalar. Itulah passion... Itulah kenapa aku selalu tersudut dan berjalan tanpa semangat..
Kawan..sudahkah kau menemukan passion hidupmu ?
Banjarnegara, hakikat embun kalbumu
Hari masih pagi.Mentari masih bersembunyi di peraduan, samar-samar sinarnya muncul menembus kegamangan awan. Biru-biru cerah muda membias syahdu diterpa setitik-titik cahaya yang timbul dan tenggelam di pertengahan April. Satu per satu burung keluar, menyambut sentuhan pertama mentari. Berdansa mereka di rekahan titik-titik mentari yang semakin jumawa membumbung di horizon. Seperti juga aku, pagi benar aku siapkan kuda besiku. Sudah sedari pagi aku mandikan dia. Rupanya aku terlalu antusias seperti burung gereja di pagi ini.
Silvie - julukan manis untuk kuda besiku- menembus rongga-rongga pagi, menembus putih suci jejatuhan embun yang dingin dan segar. Aku pun laksana embun, kedinginan setelah semalam bersemayam di dedaunan,,aku semalaman menunggu hangat itu,,menyongsong aku menunggu pagi,walau sekejap mata aku diterjang kehangatan itu tapi setetes kebermaknaan lah hakikatku ada. Pagi ini aku menerjang aspal-aspal kedinginan jalanan Bukateja, masih lengang tak banyak hiruk pikuk peradaban terlihat. Tujuanku ke Banjarnegara, daerah yang pernah aku kunjungi sewaktu masih booming promosi murahan Bonbin Seruling Mas, dan kami -aku dan keluargaku- representasi keluarga berencana yang baru beranjak mapan menjadi sasaran empuk promosi itu. Tapi itu udah sangat lama, waktu aku masih asyik dengan tamagochi sepertinya. Memilih jalur Purbalingga pun sebenarnya jalur yang tidak efisien, karena aku memilih jalur yang memutar. Tapi kabar burung yang mengatakan lewat jalur Banyumas lebih berbahaya karena jalurnya masih remaja, dalam artian jerawatan atau bopeng kanan dan kiri.
Purbalingga pun masih menggeliat waktu aku melintas. Jalur sibuk para pekerja pabrik di jalan arterinya masih belum terlihat. Aku seperti tersedot ke mesin waktu, saat masih digdaya dengan putih abu-abu atau putih krem -kebanggaan almamater ganeshaku-. Saat aku masih terlalu muda memandang dunia dan menjamah tiap jengkal Purbalingga. Hawa pagi ini masih sama, saat aku lewat terminal, seperti kulihat bayangku menanti angkutan yang tak jua datang. Saat aku bergegas menghindari jarum jam menunjuk angka tujuh. Bukateja masih laksana kota mati, kota persinggahan antara Banjar dan Purbalingga ini masih lelap dalam tidurnya. Jembatannya yang panjang dan sungai yang sombong membelah kedua daratan itu, landmark kota persinggahan ini.
Banjarnegara masih jauh, belum lagi aku sampai ke Klampok. Akhirnya sampai juga ke Klampok, aku disambut gemerlap pesta demokrasi di Banjarnegara. Muka-muka sok mengayomi menghiasi tiap sudut kota, tipenya hampir sama. Pria setengah baya dengan setelan formal, muka dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan pencitraan yang bersahaja dan yang paling dominan adalah jeans hitam membalut tubuh, setelan itu rupanya belum mampu menyembunyikan perutnya yang secara sembrono menyembul di balutan pencitraan yang dibuat. Taglineku untuk ini : emang perut gak bisa bohong.. :P
Jalanan Banjar masih memanjang. Dataran rendah di kaki Pegunungan Dieng ini terlihat datar. Jalan hanya lurus tanpa banyak pemandangan berarti. Datar seperti kota ini.
Aku pun akhirnya sampai di kostmu. Kumpulan para mahasiswa kebidanan yang berdesakan di bedeng kecil di tengah kota Banjarnegara. Mereka masih muda, seumuranku tapi mempunyai kutukan profesi, yaitu selepas wisuda harus terbiasa dengan panggilan Ibu. Ya, Ibu bidan. Tak seperti biasanya kau sudah siap. Terlihat menawan di mataku yang sedari pagi kelilipan debu jalanan Banjarnegara. Hari ini kami akan berkunjung ke rumah saudaranya di Batur. Tempat dia menghabiskan waktu sewaktu ia masih balita. Dan aku pun mafhum dia terlihat antusias menyambut perjalanan ini. Masa lalu itu layaknya mozaik, tercecer tak jelas di kolong dunia. Maka temukanlah mozaik itu satu per satu agar menjadi penyemangatmu kelak.
( Aku dan kamu laksana embun pagi. Menunggu semalaman menerpa hijau dedaunan, saat mentari merekah dan menggoda atas hangatnya. Hakikat atas kebermaknaan adalah embun itu. Sedetik hilang diterpa mentari yang semalam ia tunggu. Tapi kebermaknaanlah tujuan hidupnya )
* cerita selanjutnya TRIP TO BATUR ======> ON GOING PROJECT
Pasar Kliwon ; sebuah cerita untuk masa depan
Hari itu..ya hari itu,sungguh tak telupakan dan hina dina,hehehe..Tantangan yang amat sangat susah untuk diduga.
Minggu kemarin,kami terguncang sambil tertawa saat angkudes membawa lari tawa kami.Candaan atas teknik mendapatkan pekerjaan yang paling efektif dan efisien berputar di episentrum otak kami.Teknik ini akan merepresentasikan kehandalanmu dalam public speaking, lobbying tingkat tinggi, sedikit ancaman atau segurat muka penuh memelas.Cerminan pribadimu sampai jam 11. Baju kusam sekumal-kumalnya menempel mesra di tubuh kami yang sedari sore tidak berkenalan dengan air, berkolaborasi membentuk simfoni dengan bau mulut yang tak terpoles pasta gigi pagi ini. Sebuah kenyataan atas manusia yang sejatinya bertahta rasionalitas bernama mahasiswa : Pagi ini.
Sudah setengah jam aku memutari Kliwon,sudah banyak lapak yang aku tanyakan kesediaannya.Kadang penolakan halus dan kasar aku telan mentah-mentah.Gelengan kepala atau malah lambaian tanda mengusir kesekiaan kalinya aku terima, tapi itu baru permulaan cerita ini...
Teman-teman yang lain juga masih terlihat berputar kesana kemari, mencari lowongan yang tak pasti.Baru 2 kali putaran, mata kami memincing iri dan melihat sinis.Rupanya Naim sudah mendapat gawe.Celemek KW 2 membungkus lekat tubuhnya yang juga KW 10 karena belum mandi.Kedua tangannya penuh membawa celemek warna-warni cap murahan bikinan sablonan kelas taipan sablon abal-abal.Mukanya berseri seakan kearoganan menyelimuti tiap sudut tawanya, sangat serasi dengan warna merah pasaran dan kuning gigi celemek jualannya. Dia orang pertama yang menyabet pekerjaan, fresh graduate dari Universitas Zona Nyaman (hehe,jadi inget Imeng :P).
Putaran ketiga masih kulihat banyak teman-teman kebingungan.Ade masih canggung berjalan menyisir sisi kiri pasar, mungkin sedang mencari kosakata Bahasa Jawa yang dulu pernah dia buat kamus di semester satu. Anisa, yang biasanya terlihat senyumnya,kali ini masam sambil membenarkan rambut kritingnya yang semalam terbakar, gayanya dengan baju soundrenaline memberikan ketakutan mungkin jika dia dikira bromocorah wanita dengan tato Jagalah Kebersihan.Sesekali terlihat Intan dan Imeng sungguh berat mencari kerja dengan kulit mulus kalian.Dan Wie Lie masih berjalan setengah berlari sambil memikirkan alasan apa untuk bisa menggerakan hati orang pasar agar memperkerjakannya. Tio rupanya sudah berganti profesi,setelah setengah jam lalu mondar mandir sebagai broker air mineral, kali ini dia terlihat percaya diri meneteng jajanan pasar, klanting dan kawan-kawannya. Sungguh dinamisasi yang luar biasa oleh Ketua Semnas ini, dia sekarang pun resmi menyandang gelar Cabang Berjalan Klanting Gurih.Kami membaur menanyakan kesana kemari, mencari setipis-tipisnya kesempatan, mencari ilmu yang tak pernah ditulis oleh Professor manapun.
Aku berhenti sejenak di depan pasar. Kulihat banyak muka-muka agak eksotis tersiram cahaya matahari sedari siang.Ardhi masih ketawa ketiwi sambil berbincang-bincang dengan tukang parkir dan andong kuda.Aku harap dia tidak sedang mempresentasikan dirinya untuk menggantikan kuda. Denis sudah resign dari dunia entertainment setelah dia selaku Pimpinan Konser dan artisnya Eto merasa tidak diapresiasi oleh pendengar segmentasi pasar. Baru sebuah lagu didendangkan oleh Eto dengan penuh penghayatan dan nada-nada yang tak lepas dari pitch sudah diganjar dengan bulatan kecil warna perak dengan angka 1 dan nol dua mengekor. Track recordnya sebagai penyanyi kampus dan pencitraan mukanya yang agak mendukung pun sepertinya tak banyak membantu si Penjual Bawang untuk tak ragu menambal mulutnya dengan receh dua ratus.
Aku masuk ke pasar lagi,aku memberanikan diri menanyakan pekerjaan ke penjual bawang. Mukanya sudah tak muda lagi, tempaan berpuluh-puluh tahun atas ekspektasi mencari laba. Dagangannya masih banyak, kadang juga bau-bau tak sedap tanda busuk kerap tercium.Stock opname bulan lalu mungkin belum BEP. Kutatap matanya yang mulai lelah, kuajukan alasan secara halus dengan bahasa Kromo Inggil. Rupanya beliau sedari tadi belum ada satu pun konsumen yang mendekat dan menyatakan keengganan untuk memperkerjakanku sampai jam 11. Aku pun berlalu dan si Mbah rupanya memanggilku sambil berucap "Kiye nggo ongkos bali nduk, sinau sing pinter ben dadi dokter ".Tangannya mengulurkan lembaran Kapitan Pattimura. Sejurus kemudian dia tersenyum memamerkan giginya yang merah karena kinang. Mata agak berkaca-kaca dan gemetar menerima hadiah itu (lebe).Dan aku belajar hari ini bahwa yang besar dan prestige tidak selamanya memberi kesempatan, justru banyak orang yang kekurangan dan tertindas lebih memperhatikan sekitar.
Uang 3000 sudah aku genggam setelah seribu dari penjual bawang dan 2000 dari jasa cuci piring mie ayam. Masih defisit 2000, kembali aku berputar untuk kesekian kalinya.Rupanya kebanyakan temanku sudah merasa nyaman bekerja. Wie Lie sedang asyik memutar-mutar lombok, berkelompok dengan Meidita dan Sebastian. Denis rupanya masih terpukul dengan kemunduran bisnis entertainmentnya, dan merasa keberatan setelah ditinggal artisnya untuk membabukan diri :P ."Kang dah dapet berapa ??" tanyaku
" Wah masih stagnan kang "
Akhirnya kami sepakat jalan-jalan ke daerah perumahan belakang pasar. Dani dan Ami terlihat membungkuk di depan sebuah rumah, rupanya mereka sedang bernegosiasi.Kami lewat sambil lalu. Kemudian mereka memanggil kami dan secara eksplisit mereka telah membuktikan kapabilitas mereka dalam mencari pekerjaan. Dan 2 motor pun menanti untuk dimandikan. Rupanya kami mendapat pekerjaan yang lekat dengan keimanan seorang insan manusia kepada Tuhannya. Kami bekerja atas asas mulia " Kebersihan adalah sebagian dari Iman" dan berharap pahala runtuh sekenanya. Orang pesimis sie bilang kita jadi pembokat :P
Setelah sejam puas memandikan motor orang lain,kami sepakat istirahat. Sebelum si punya rumah - ibu ibu setengah baya dengan perut tingkat tiga- menunjuk ke arah pojok rumah dan menyuruh dengan nada sol " Itu potnya dipindahin ya mas ".Setelah sejam bekerja atas titah keimananan kami selanjutnya setengah merunduk menjinjing jinjing pot. Dan secara yudikatif, status pekerjaan kami berubah menjadi desainer outdoor.Bahasa orang pesimisnya sie tukang kebun :P
Dani dan Ami masih terlihat suaranya dari luar.Mereka bertugas menyapu dan mengepel, tugas sehari-hari yang jamak dilakukan kaum Hawa. Maka mereka pun secara simultan berjalan ke arah kanan dan kiri ; memikat bagai balerina yang menyisir panggung. Aih, rupanya mereka terlalu mendalami pekerjaan ini.
Akhirnya selesai sudah pekerjaan kami.Uang dua puluh ribu seakan tersenyum kepada kami berempat. Tanda kami bisa pulang ke BBI singasari,karanglewas.
Perjalanan hari ini pun usai, atas petualangan pengalaman tanpa batas. Tantangan kali ini bukti sahih kedewasaan kalian. Hari itu, kami menahbiskan diri bekerja sekenanya. Itulah hakikat kita berada dalam lingkaran keluarga ini. Untuk melayani, tanpa lelah, maksimal dan tak kehilangan senyum.
Minggu kemarin,kami terguncang sambil tertawa saat angkudes membawa lari tawa kami.Candaan atas teknik mendapatkan pekerjaan yang paling efektif dan efisien berputar di episentrum otak kami.Teknik ini akan merepresentasikan kehandalanmu dalam public speaking, lobbying tingkat tinggi, sedikit ancaman atau segurat muka penuh memelas.Cerminan pribadimu sampai jam 11. Baju kusam sekumal-kumalnya menempel mesra di tubuh kami yang sedari sore tidak berkenalan dengan air, berkolaborasi membentuk simfoni dengan bau mulut yang tak terpoles pasta gigi pagi ini. Sebuah kenyataan atas manusia yang sejatinya bertahta rasionalitas bernama mahasiswa : Pagi ini.
Sudah setengah jam aku memutari Kliwon,sudah banyak lapak yang aku tanyakan kesediaannya.Kadang penolakan halus dan kasar aku telan mentah-mentah.Gelengan kepala atau malah lambaian tanda mengusir kesekiaan kalinya aku terima, tapi itu baru permulaan cerita ini...
Teman-teman yang lain juga masih terlihat berputar kesana kemari, mencari lowongan yang tak pasti.Baru 2 kali putaran, mata kami memincing iri dan melihat sinis.Rupanya Naim sudah mendapat gawe.Celemek KW 2 membungkus lekat tubuhnya yang juga KW 10 karena belum mandi.Kedua tangannya penuh membawa celemek warna-warni cap murahan bikinan sablonan kelas taipan sablon abal-abal.Mukanya berseri seakan kearoganan menyelimuti tiap sudut tawanya, sangat serasi dengan warna merah pasaran dan kuning gigi celemek jualannya. Dia orang pertama yang menyabet pekerjaan, fresh graduate dari Universitas Zona Nyaman (hehe,jadi inget Imeng :P).
Putaran ketiga masih kulihat banyak teman-teman kebingungan.Ade masih canggung berjalan menyisir sisi kiri pasar, mungkin sedang mencari kosakata Bahasa Jawa yang dulu pernah dia buat kamus di semester satu. Anisa, yang biasanya terlihat senyumnya,kali ini masam sambil membenarkan rambut kritingnya yang semalam terbakar, gayanya dengan baju soundrenaline memberikan ketakutan mungkin jika dia dikira bromocorah wanita dengan tato Jagalah Kebersihan.Sesekali terlihat Intan dan Imeng sungguh berat mencari kerja dengan kulit mulus kalian.Dan Wie Lie masih berjalan setengah berlari sambil memikirkan alasan apa untuk bisa menggerakan hati orang pasar agar memperkerjakannya. Tio rupanya sudah berganti profesi,setelah setengah jam lalu mondar mandir sebagai broker air mineral, kali ini dia terlihat percaya diri meneteng jajanan pasar, klanting dan kawan-kawannya. Sungguh dinamisasi yang luar biasa oleh Ketua Semnas ini, dia sekarang pun resmi menyandang gelar Cabang Berjalan Klanting Gurih.Kami membaur menanyakan kesana kemari, mencari setipis-tipisnya kesempatan, mencari ilmu yang tak pernah ditulis oleh Professor manapun.
Aku berhenti sejenak di depan pasar. Kulihat banyak muka-muka agak eksotis tersiram cahaya matahari sedari siang.Ardhi masih ketawa ketiwi sambil berbincang-bincang dengan tukang parkir dan andong kuda.Aku harap dia tidak sedang mempresentasikan dirinya untuk menggantikan kuda. Denis sudah resign dari dunia entertainment setelah dia selaku Pimpinan Konser dan artisnya Eto merasa tidak diapresiasi oleh pendengar segmentasi pasar. Baru sebuah lagu didendangkan oleh Eto dengan penuh penghayatan dan nada-nada yang tak lepas dari pitch sudah diganjar dengan bulatan kecil warna perak dengan angka 1 dan nol dua mengekor. Track recordnya sebagai penyanyi kampus dan pencitraan mukanya yang agak mendukung pun sepertinya tak banyak membantu si Penjual Bawang untuk tak ragu menambal mulutnya dengan receh dua ratus.
Aku masuk ke pasar lagi,aku memberanikan diri menanyakan pekerjaan ke penjual bawang. Mukanya sudah tak muda lagi, tempaan berpuluh-puluh tahun atas ekspektasi mencari laba. Dagangannya masih banyak, kadang juga bau-bau tak sedap tanda busuk kerap tercium.Stock opname bulan lalu mungkin belum BEP. Kutatap matanya yang mulai lelah, kuajukan alasan secara halus dengan bahasa Kromo Inggil. Rupanya beliau sedari tadi belum ada satu pun konsumen yang mendekat dan menyatakan keengganan untuk memperkerjakanku sampai jam 11. Aku pun berlalu dan si Mbah rupanya memanggilku sambil berucap "Kiye nggo ongkos bali nduk, sinau sing pinter ben dadi dokter ".Tangannya mengulurkan lembaran Kapitan Pattimura. Sejurus kemudian dia tersenyum memamerkan giginya yang merah karena kinang. Mata agak berkaca-kaca dan gemetar menerima hadiah itu (lebe).Dan aku belajar hari ini bahwa yang besar dan prestige tidak selamanya memberi kesempatan, justru banyak orang yang kekurangan dan tertindas lebih memperhatikan sekitar.
Uang 3000 sudah aku genggam setelah seribu dari penjual bawang dan 2000 dari jasa cuci piring mie ayam. Masih defisit 2000, kembali aku berputar untuk kesekian kalinya.Rupanya kebanyakan temanku sudah merasa nyaman bekerja. Wie Lie sedang asyik memutar-mutar lombok, berkelompok dengan Meidita dan Sebastian. Denis rupanya masih terpukul dengan kemunduran bisnis entertainmentnya, dan merasa keberatan setelah ditinggal artisnya untuk membabukan diri :P ."Kang dah dapet berapa ??" tanyaku
" Wah masih stagnan kang "
Akhirnya kami sepakat jalan-jalan ke daerah perumahan belakang pasar. Dani dan Ami terlihat membungkuk di depan sebuah rumah, rupanya mereka sedang bernegosiasi.Kami lewat sambil lalu. Kemudian mereka memanggil kami dan secara eksplisit mereka telah membuktikan kapabilitas mereka dalam mencari pekerjaan. Dan 2 motor pun menanti untuk dimandikan. Rupanya kami mendapat pekerjaan yang lekat dengan keimanan seorang insan manusia kepada Tuhannya. Kami bekerja atas asas mulia " Kebersihan adalah sebagian dari Iman" dan berharap pahala runtuh sekenanya. Orang pesimis sie bilang kita jadi pembokat :P
Setelah sejam puas memandikan motor orang lain,kami sepakat istirahat. Sebelum si punya rumah - ibu ibu setengah baya dengan perut tingkat tiga- menunjuk ke arah pojok rumah dan menyuruh dengan nada sol " Itu potnya dipindahin ya mas ".Setelah sejam bekerja atas titah keimananan kami selanjutnya setengah merunduk menjinjing jinjing pot. Dan secara yudikatif, status pekerjaan kami berubah menjadi desainer outdoor.Bahasa orang pesimisnya sie tukang kebun :P
Dani dan Ami masih terlihat suaranya dari luar.Mereka bertugas menyapu dan mengepel, tugas sehari-hari yang jamak dilakukan kaum Hawa. Maka mereka pun secara simultan berjalan ke arah kanan dan kiri ; memikat bagai balerina yang menyisir panggung. Aih, rupanya mereka terlalu mendalami pekerjaan ini.
Akhirnya selesai sudah pekerjaan kami.Uang dua puluh ribu seakan tersenyum kepada kami berempat. Tanda kami bisa pulang ke BBI singasari,karanglewas.
Perjalanan hari ini pun usai, atas petualangan pengalaman tanpa batas. Tantangan kali ini bukti sahih kedewasaan kalian. Hari itu, kami menahbiskan diri bekerja sekenanya. Itulah hakikat kita berada dalam lingkaran keluarga ini. Untuk melayani, tanpa lelah, maksimal dan tak kehilangan senyum.
Wanita pemilik pagi
Pagi merekah di ufuk timur, mulai terbuka sejak mentari dengan digdaya muncul ke permukaan samar-samar. Warnanya tersamar dengan malam yang mulai memudar, berpendar membentuk warnanya oranye beradu dengan hitam pekat. Dari penjuru arah angin, sayup-sayup terdengar adzan. Dari menara-menara masjid yang terpantul cahaya gemerlap mentari itu suara adzan menusuk pagi. Muadzin menarik panjang suaranya, menukik pada bagian akhirnya. Saat idzhar terbaca jelas dan ikhfa tersamar nadanya, membentuk alunan nada milik Illahi Robi.
Wanita itu masih duduk di sajadahnya, setelah pada sepertiga malam mulai menegakan badannya dan melawan dingin untuk sekedar memenuhi sunahNya.Sebelum adzan mulai samar-samar terdengar ia panjatkan lantunan ayat Al quran. Bernada sedemikian indahnya, naik turun dengan sangat cantik. Dia bahkan tak pernah bisa tuk sekedar bernyanyi. Tapi lantunan tiap sepertiga malam itu adalah bentuk rintihan dan curhatan atas hidup yang semakin tak pasti. Ditumpahkan semua gelora yang terekam di dalam dada, terangkum dalam naik turun yang membahana. Hingga dia membaca akhir dari surah Al quran desahannya terhenti dan rasa ngilunya hilang. Terganti dengan rasa dingin ketentraman yang mulai menggerayangi dari sudut kalbu dan meluas sampai keseluruh tubuhnya.
Sedetik kemudian tangan yang mulai renta menggoyang-goyangkan tubuhku. Berharap aku tersadar dari tidurku. Kadang dia terlampau bersemangat untuk membangunkanku, sampai ada sebuah teriakan. Entahlah…. Teriakan yang tulus dari tangan-tangan Tuhan yang suci sepertinya.
Walau terlihat lemah saat membaca lantunan ayat suci namun dirinya harus menjadi penjaga akhlak kami. Segala cara dan upaya dikerahkannya untuk menajalankan misi mulianya. Membangun keluarga Islam yang kuat sedari Subuh. Perubahan sifat yang begitu drastis itu menunjukan komitmennya yang tiada henti kepada kami. Dia takkan pernah berharap kami melihat momentum sebelum membangunkan kami.Buatnya hal yang perlu dikenal darinya cukup satu kalimat lugas : tegas dan istiqomah !
Memang untukku sebenarnya Subuh itu sangat indah. Berlarian dengan ikomah, berharap tak sampai tertinggal rakaat. Atau saat alunan adzan khas subuh yang berarti solat itu lebih baik dari tidur. Entahlah aku merasakan kantuk yang teramat hebat pada bagian refrain tersebut. Seolah-olah tiap kelopak mataku dijejali dengan milyaran Iblis yang meniupkan angin-angin nikmat pembuat kantuk. Atau memelukku erat hingga sekujur tubuh didera kedinginan yang kelu dari ujung kaki ke ujung kepala dan bagian otakku mengomandoi untuk segera menarik selimut. Subuh teramat berat untukku.
Tapi itu sebelum cipratan air itu menerjang mukaku. Aih..tips terakhir membangunkan orang yang bergundik dengan setan. Wanita itu mulai kehabisan kesabaran rupanya.
Tahukah kau Kawan, berlarian untuk mengejar subuh adalah hal yang membuat stimulan paling berharga untukmu. Mengejar alunan adzan sebelum berhenti di akhir, berlarian bersanding rekahan mentari yang tersudut di timur. Saat kakimu mulai meregang dan jantungmu berdetak memompa ke sekujur tubuh, seolah berdzikir dan tiada henti melantunkan syukur atas nikmat pagi dan Subuh.
Duhai kau wanita pemilik pagi, bangganya aku menyebutmu Ibu.
Akulah pria yang menolak altar suci keilmuan Jogja !!!
Mendung masih menggantung di ufuk.Memberi sebuah kemuraman yang gelap dan mengiris sendi-sendi keceriaan. Titik demi titik air meluncur lepas dari genggaman awan, tanpa ragu menerjang bumi yang tersungkur penuh debu. Laju kereta yang mengaum sedari setengah jam yang lalu berbaur dengan rintik hujan membentuk simfoni antara orkestra alam dan kedigdayaan manusia. Hari itu,sekitar bulan April tahun 2008 aku dan temanku(sebut saja Deni) berguncang menikmati kereotan kereta api ekonomi ke Jogja. Wangi anyir dan pesing adalah hal yang sangat lazim, membaur sekenanya ke lubang-lubang hidung yang telah disetting agar tak peka. Wangi itu semakin menjadi jadi saat berbaur dengan bawaan sayur-sayuran dan bawaan kelas ekonomi penumpangnya. Seakan telah menjadi skenario keanyiran kelas ekonomi, naiklah penghibur kelas ekonomi yang khas, buas, dan yaaaa..cukup menghibur. Mereka adalah orkes dangdut lintas gender, berbadan tegap laksana kuli panggul pasar pagi, membawa snar bass berhias kayu kotak bernada beeemm,,beeeemmm seenaknya. Dan yang fenomenal adalah yel mereka..Itikiwir…sebuah brand tersendiri atas ribuan kali pencarian jati diri dalam karier bermusik mereka. Suasana itu membaur,sekenanya, hujan, amis, dan orkes transjender,..sangat ekonomi,,sangat merakyat dan Indonesia sekali.
Aku dan Deni adalah teman semenjak SMP dan berpisah saat SMA. Kami berdua mempunyai obsesi yang sama – Jogja. Entah mengapa nama kota itu seperti magnet, memberi keterikatan yang amat dalam. Seolah olah setiap mimpi-mimpi besar berpusat di kota itu. Kami mendamba mendapat universitas negeri disana, keluar dari pergaulan Purwokerto yang membosankan , hidup ngekost sambil menikmati Jogja dan lulus dengan predikat cum laude. Skenario sempurna. Sejak sebulan kami berselancar mencari informasi, aku ingin melanjutkan ke ekonomi dan Deni lebih tertarik ke jurusan Kehutanan. Landmark universitas itu telah menghantui mimpi kami setiap malam, bangunannya yang gigantis pertanda prestise tersendiri, altar almamaternya yang gemerlap menjanjikan masa depan cerah gumintang.
Bunyi peron dan cincitan rem kereta menghentak menghentikan perjalanan ini. Ya,Jogja tempat semua altar ilmu bertumpu menjadi satu. Dan kami menginjakan hentakan pertama di kota ini.
Mei 2008
Purwokerto masih tergenang hujan sedari malam. Deni berdiri tegak memandangi jam dinding yang belum bergerak sedetik yang lalu. Menanti jam setengah 7 yang masih 5 menit lagi. Di jam itu , loper koran melempar koran ke rumahnya. Tak pernah dia begitu perhatian atas tiap detik menanti jam 7 sebelumnya. Di lembar-lembar koran tersebut akan ada nama-nama agung siswa siswi terbaik nusantara yang masuk Universitas prestisius itu. Kerja kerasnya selama sebulan berjibaku menghadapi ujian masuk setelah 3 bulan sebelumnya lagi memperdalam dan memprediksi soal-soal di bimbel ternama.
Setengah Tujuh
Mata Deni terbelalak, memeriksa satu per satu baris nama yang terpampang di koran. Dibaca dengan saksama dan memincing mata sampai korneanya berkontraksi sedetail mungkin. Dibaca dari atas sampai bawah setelah membacanya 3 kali. Dia baca sampai ke fakultas yang tidak pernah dimauinya, kali saja dia ada disana.
Nafasnya terhenti, meleleh dipertengahan oksigen di parunya. Setetes air bening mengucur pelan di pipinya, nafas itu melahirkan air mata. Oksigen-oksigen seolah berkejaran membentuk ritme sesenggukan. Otaknya terus menerawang atas doa-doa yang dipanjatkan ibunya tiap malam. Imajinya menggantung terpaku pada harapan besar ayahnya. Tiga bulan lamanya ia bergelut dengan buku, tiga tahun lamanya ia memperluas kenalan dengan kakak angkatan yang kuliah di Universitas idamannya. Tiap malam dari bada maghrib sampai menjelang tengah malam,secangkir kopi menemani pergumulannya dengan buku. Deni takkan pernah menangis semelankolis ini jikalau Jogja tak membiusnya.
Januari 2011
Kutatap benar profil jejaring sosial itu. Nama yang tak asing, rupanya hidup telah mengubahnya. Foto profilnya memegang erat trofi pertama seumur hidupnya dan senyum seringai liciknya yang tak berubah seolah ingin katakan “Banggalah padaku dunia” !!!.
Aku menyeruput dalam-dalam coffemixku dan membayangkan momen bersamanya. Sekilas aku berpikir rupanya Tuhan lebih tahu jalan hidup kita.
Deni temanku dengan bangga memegang trofi debat di Universitas negeri di luar jawa. Setelah Jogja menolaknya dia dengan sikap elegan memalingkan muka. Berteriak dia kepada sambil menunjukan peta Indonesia, rupanya ia menunjuk bagian paling bawah di pulau Sumatera. Rupanya ia muak dengan impian Jogjanya, ia ingin sesuatu yang menantang dan di pulau itulah dia berlabuh.
Deni adalah seorang petualang sejati, dirinya adalah orang paling keras yang pernah aku kenal. Saat penolakan ujian masuk itu, dia membisikan kata paling mujarab “ Suatu saat aku lah yang akan menolak Jogja !!!”.
Hidup dengan bermimpi adalah sebuah keberanian. Saat kita bermimpi dan sudah mengerahkan seluruh kemampuan kita, maka pada hakikatnya kitalah pemenang sejati. Perjalanan sang waktu dan takdir memang merupakan hak sepenuhnya Sang Kuasa. Saat kaudapati dirimu gagal, saat itulah Tuhan telah menciptakan ribuan pintu-pintu kesuksesanmu yang baru. Jangan terlampau lama larut di pintu tertutup itu….ayo bangkit dan buka pintu rahmah Illahi takdirmu sebenarnya : kesuksesan !!!
Aku dan Deni adalah teman semenjak SMP dan berpisah saat SMA. Kami berdua mempunyai obsesi yang sama – Jogja. Entah mengapa nama kota itu seperti magnet, memberi keterikatan yang amat dalam. Seolah olah setiap mimpi-mimpi besar berpusat di kota itu. Kami mendamba mendapat universitas negeri disana, keluar dari pergaulan Purwokerto yang membosankan , hidup ngekost sambil menikmati Jogja dan lulus dengan predikat cum laude. Skenario sempurna. Sejak sebulan kami berselancar mencari informasi, aku ingin melanjutkan ke ekonomi dan Deni lebih tertarik ke jurusan Kehutanan. Landmark universitas itu telah menghantui mimpi kami setiap malam, bangunannya yang gigantis pertanda prestise tersendiri, altar almamaternya yang gemerlap menjanjikan masa depan cerah gumintang.
Bunyi peron dan cincitan rem kereta menghentak menghentikan perjalanan ini. Ya,Jogja tempat semua altar ilmu bertumpu menjadi satu. Dan kami menginjakan hentakan pertama di kota ini.
Mei 2008
Purwokerto masih tergenang hujan sedari malam. Deni berdiri tegak memandangi jam dinding yang belum bergerak sedetik yang lalu. Menanti jam setengah 7 yang masih 5 menit lagi. Di jam itu , loper koran melempar koran ke rumahnya. Tak pernah dia begitu perhatian atas tiap detik menanti jam 7 sebelumnya. Di lembar-lembar koran tersebut akan ada nama-nama agung siswa siswi terbaik nusantara yang masuk Universitas prestisius itu. Kerja kerasnya selama sebulan berjibaku menghadapi ujian masuk setelah 3 bulan sebelumnya lagi memperdalam dan memprediksi soal-soal di bimbel ternama.
Setengah Tujuh
Mata Deni terbelalak, memeriksa satu per satu baris nama yang terpampang di koran. Dibaca dengan saksama dan memincing mata sampai korneanya berkontraksi sedetail mungkin. Dibaca dari atas sampai bawah setelah membacanya 3 kali. Dia baca sampai ke fakultas yang tidak pernah dimauinya, kali saja dia ada disana.
Nafasnya terhenti, meleleh dipertengahan oksigen di parunya. Setetes air bening mengucur pelan di pipinya, nafas itu melahirkan air mata. Oksigen-oksigen seolah berkejaran membentuk ritme sesenggukan. Otaknya terus menerawang atas doa-doa yang dipanjatkan ibunya tiap malam. Imajinya menggantung terpaku pada harapan besar ayahnya. Tiga bulan lamanya ia bergelut dengan buku, tiga tahun lamanya ia memperluas kenalan dengan kakak angkatan yang kuliah di Universitas idamannya. Tiap malam dari bada maghrib sampai menjelang tengah malam,secangkir kopi menemani pergumulannya dengan buku. Deni takkan pernah menangis semelankolis ini jikalau Jogja tak membiusnya.
Januari 2011
Kutatap benar profil jejaring sosial itu. Nama yang tak asing, rupanya hidup telah mengubahnya. Foto profilnya memegang erat trofi pertama seumur hidupnya dan senyum seringai liciknya yang tak berubah seolah ingin katakan “Banggalah padaku dunia” !!!.
Aku menyeruput dalam-dalam coffemixku dan membayangkan momen bersamanya. Sekilas aku berpikir rupanya Tuhan lebih tahu jalan hidup kita.
Deni temanku dengan bangga memegang trofi debat di Universitas negeri di luar jawa. Setelah Jogja menolaknya dia dengan sikap elegan memalingkan muka. Berteriak dia kepada sambil menunjukan peta Indonesia, rupanya ia menunjuk bagian paling bawah di pulau Sumatera. Rupanya ia muak dengan impian Jogjanya, ia ingin sesuatu yang menantang dan di pulau itulah dia berlabuh.
Deni adalah seorang petualang sejati, dirinya adalah orang paling keras yang pernah aku kenal. Saat penolakan ujian masuk itu, dia membisikan kata paling mujarab “ Suatu saat aku lah yang akan menolak Jogja !!!”.
Hidup dengan bermimpi adalah sebuah keberanian. Saat kita bermimpi dan sudah mengerahkan seluruh kemampuan kita, maka pada hakikatnya kitalah pemenang sejati. Perjalanan sang waktu dan takdir memang merupakan hak sepenuhnya Sang Kuasa. Saat kaudapati dirimu gagal, saat itulah Tuhan telah menciptakan ribuan pintu-pintu kesuksesanmu yang baru. Jangan terlampau lama larut di pintu tertutup itu….ayo bangkit dan buka pintu rahmah Illahi takdirmu sebenarnya : kesuksesan !!!
Hari itu,di penghujung Desember
Hujan yang sedari menggenangi kota ini dalam keputusasaan.Menyirami tiap sudutnya dari air yang dijatuhkan dari gumpalan awan kelabu.Menghilangkan semua aktivitas yang seharusnya dilaksanakan.Ini adalah momen paling sendu sepanjang tahun. Penghujung tahun adalah waktu paling sendu untuk para aktivis,dan pemangku kebijaksanaan.Hari dimana tiap detik yang dilalai sebelumnya dipertanggungjawabkan sepenuhnya.Desember pada saat hujan turun deras dan mengusir debu tanggung jawab.
Seperti hari biasanya,aku sisipkan mantel merahku yang berhias masuk ke dalam tasku.Takkan pernah ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti di bulan Desember.Tak seperti biasanya kampusku ramai oleh baliho dan umbul-umbul bertuliskan kalimat yang menjanjikan surgawi,rupanya tidak untuk semua orang bahwa akhir tahun adalah keputusasaan.Kalimat yang sangat inspiratif seperti..ya bisa!!..lanjutkan..!!klisekah??entahlah semoga saja kalimat optimis itu tak hilang karena hujan pada sore harinya.
Fakultas Ekonomi dengan landmark yang sangat familiar-orang menunggang kuda-di lapangan depannya tegak menantang mendung.Padahal sebenarnya para penjual tahu penyet atau jagung bakar pun tahu bahwa sang Jendral sakit-sakitan dan sangat tidak mungkin untuk duduk di kudanya.Itulah propaganda kampus,sebuah hiperbol.Untuk merujuk para lulusan kampus ini adalah kualitas jendral penunggang kuda sembrani.Kampus yang sesak dengan hedonism dan berjuta hal-hal material yang harus ditelan bulat-bulat di kepala para manusia bernama mahasiswa Fakultas Ekonomi .Itulah aku yang secara administrative dipanggil C1C008059.Satu diantara ribuan kepala di kampus pak penunggang kuda.
Kulintas bangunan besar,sebuah perpustakaan dan baliho 2 bulan lalu,samar-samar kubaca Simposium Nasional Akuntansi XIII Purwokerto.Ya,13 Oktober.Saat itulah semuanya berawal.Hari itu adalah hari dimana mimpi menjadi keniscayaan,bagaimana mungkin kampus ini mampu menghadirkan event sebesar itu.Terpikir pun tidak.Namun tak ada yang tidak mungkin di dunia ini.
Simposium Nasional Akuntansi adalah event yang digelar oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Kompartement pendidikan,yang berupaya untuk menggalakan dan memberikan info hangat seputar dunia akuntansi ke para calon akuntan-mereka yang duduk di perguruan tinggi.Kampus ini jelas bukan sebuah tujuan yang tak pernah diperhitungkan sebelumnya.SNA selalu digelar di kampus yang bila orang mendengarnya akan mendesah nafas dan membayangkan betapa hebatnya.SNA selalu digelar di kutub-kutub pendidikan yang selalu melahirkan para pemikir dan cendikiawan yang malang melintang di Nusantara.Sementara disini,kami bahkan kadang masih gamang atas pencatatan barang dagangan apakah menggunakan FIFO ataupun LIFO.SNA merupakan ajang pamer infrastruktur dan pencapain para civitas akademika di dalamnya.Tapi lihatlah kita,berkubang dalam keringat dan panas tanpa pendingin ruangan.Tapi semua itu hanya factor yang tak sepenuhnya diperhitungkan.
Pada saat SNA XII Palembang,para dosen dengan segala upaya memberikan presentasi untuk membujuk tim pelaksana agar dapat melaksanakan SNA di Purwokerto.Waktu itu public lebih tertarik pada Universitas………….yang menjanjikan Bunaken sebagai wisata refreshing di dalam paket SNAnya.Tapi mereka,para dosen dengan tegas dan kepala tegak mengikrarkan,,,ya kami punya Nusakambangan,tempat para penjahat kelas kakap dan koruptor menghabiskan sisa hidupnya.Itulah mereka kawan dengan percaya diri mampu keluar dari hal yang biasa dan membosankan.Mereka yang berpikir out of the box lah yang juara.Tapi bukan melulu wisata yang dibacarakan,Purwokerto adalah kota yang sedang berkembang ke arah edukatif,dan banyak menarik siswa dari luar daerah seperti Jawa Barat dan Jakarta.Inilah calon kutub perubahan di daerah Banyumas.
Seminggu setelah palu diketuk dan diputuskan SNA akan digelar di Purwokerto,dibentuklah panitia gabungan antara dosen dan mahasiswa.Banyak masalah yang harus diselesaikan.Dana,akomodasi dan banyak hal yang harus segera dipecahkan.Secara geografis,Purwokerto adalah daerah yang tanggung tanpa bandara.Dan tebaklah apa yang harus dilakukan mereka-para orang penting- menghabiskan 3 atau 5 jam di alat transportasi yang tak pernah mereka pakai selepas bandara??Maka digodoklah berbagai konsep dan upaya untuk meredam kecapaian para calon peserta SNA selama perjalanan.Upaya itu disebut keramahan.Para Lision Officer(LO) harus berupaya meregangkan kedua bibir mereka selebar dan seramah mungkin.Konsep ini mungkin kuno namun itu bekerja dengan baik.Maka dapat ditarik kesimpulan,jika anda capek,letih,lesu maka tersenyumlah.
Proses terus berlangsung,konsep terus digodok dan permasalah ditekan hingga sama sekali tak ada.Maka hari itu pun dating,13 Oktober.Matahari menyingsing di horizon,membias oranye berhadapan langsung dengan dominan biru muda.Bandara Adi Sucipto dan smua bandara di Pulau Jawa dipenuhi makhluk penjemput berpakaian batik biru,Itulah mereka Akomodasi dan Transportasi.Sementara itu ratusan kilometer di kampus kita telah banyak kerumunan yang mencoba menegakan baliho sepanjang jalan dan kami, mencoba mempersiapkan setiap detail dari apa-apa yang akan dibutuhkan.Semuanya terlihat bersemngat,menggarap proceeding,merapikan tas-tas merchandise,menjinjing peraltan untuk pameran,merapikan make up bagi tim penerima tamu,koordinasi dengan satpam untuk jaminan keamanan,menghubungi Bawor yang sedari tadi belum muncul.Itulah hasrat yang ditunjukan dalam dinamisasi kampus ini,semuanya bergerak,kedepan,melangkah dengan pasti dan mempersiapkan yang terbaik.Sekecil apapun,apakah karena kamu hanya tukang jinjing,semuanya antusias menyambut event yang mungkin takkkan pernah datang kedua kalinya ke kampus ini.
Para peserta mulai datang dan menghambur keluar.Kami dari semua elemen divisi telah menyiapkan jurus andalan kami.Maka setiap mereka yang berbaju batik hijau akan menghambar segaris senyum di bawah hidung mereka.Tim Perkap membawa barang pun dengan senyum,mungkin sebenarnya senyum getir karena bawaannya memang berat.Para peserta pun menanyakan segala hal tentang kampus,gedung apalah,dibangun kapanlah,buat apalah dan kami senantiasa mengandalkan jurus andalan tadi senyum,bingung tentunya.Namun apa yang disebut keterbatasan itu dianggap oleh para pesohor dan pendekar akuntansi itulah yang dimaksud dengan kenikmatan perjalanan akademis.
Simposium Nasional…event sebesar itu,mungkin takkan pernah terulang lagi di kampus ini.
Seperti hari biasanya,aku sisipkan mantel merahku yang berhias masuk ke dalam tasku.Takkan pernah ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti di bulan Desember.Tak seperti biasanya kampusku ramai oleh baliho dan umbul-umbul bertuliskan kalimat yang menjanjikan surgawi,rupanya tidak untuk semua orang bahwa akhir tahun adalah keputusasaan.Kalimat yang sangat inspiratif seperti..ya bisa!!..lanjutkan..!!klisekah??entahlah semoga saja kalimat optimis itu tak hilang karena hujan pada sore harinya.
Fakultas Ekonomi dengan landmark yang sangat familiar-orang menunggang kuda-di lapangan depannya tegak menantang mendung.Padahal sebenarnya para penjual tahu penyet atau jagung bakar pun tahu bahwa sang Jendral sakit-sakitan dan sangat tidak mungkin untuk duduk di kudanya.Itulah propaganda kampus,sebuah hiperbol.Untuk merujuk para lulusan kampus ini adalah kualitas jendral penunggang kuda sembrani.Kampus yang sesak dengan hedonism dan berjuta hal-hal material yang harus ditelan bulat-bulat di kepala para manusia bernama mahasiswa Fakultas Ekonomi .Itulah aku yang secara administrative dipanggil C1C008059.Satu diantara ribuan kepala di kampus pak penunggang kuda.
Kulintas bangunan besar,sebuah perpustakaan dan baliho 2 bulan lalu,samar-samar kubaca Simposium Nasional Akuntansi XIII Purwokerto.Ya,13 Oktober.Saat itulah semuanya berawal.Hari itu adalah hari dimana mimpi menjadi keniscayaan,bagaimana mungkin kampus ini mampu menghadirkan event sebesar itu.Terpikir pun tidak.Namun tak ada yang tidak mungkin di dunia ini.
Simposium Nasional Akuntansi adalah event yang digelar oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Kompartement pendidikan,yang berupaya untuk menggalakan dan memberikan info hangat seputar dunia akuntansi ke para calon akuntan-mereka yang duduk di perguruan tinggi.Kampus ini jelas bukan sebuah tujuan yang tak pernah diperhitungkan sebelumnya.SNA selalu digelar di kampus yang bila orang mendengarnya akan mendesah nafas dan membayangkan betapa hebatnya.SNA selalu digelar di kutub-kutub pendidikan yang selalu melahirkan para pemikir dan cendikiawan yang malang melintang di Nusantara.Sementara disini,kami bahkan kadang masih gamang atas pencatatan barang dagangan apakah menggunakan FIFO ataupun LIFO.SNA merupakan ajang pamer infrastruktur dan pencapain para civitas akademika di dalamnya.Tapi lihatlah kita,berkubang dalam keringat dan panas tanpa pendingin ruangan.Tapi semua itu hanya factor yang tak sepenuhnya diperhitungkan.
Pada saat SNA XII Palembang,para dosen dengan segala upaya memberikan presentasi untuk membujuk tim pelaksana agar dapat melaksanakan SNA di Purwokerto.Waktu itu public lebih tertarik pada Universitas………….yang menjanjikan Bunaken sebagai wisata refreshing di dalam paket SNAnya.Tapi mereka,para dosen dengan tegas dan kepala tegak mengikrarkan,,,ya kami punya Nusakambangan,tempat para penjahat kelas kakap dan koruptor menghabiskan sisa hidupnya.Itulah mereka kawan dengan percaya diri mampu keluar dari hal yang biasa dan membosankan.Mereka yang berpikir out of the box lah yang juara.Tapi bukan melulu wisata yang dibacarakan,Purwokerto adalah kota yang sedang berkembang ke arah edukatif,dan banyak menarik siswa dari luar daerah seperti Jawa Barat dan Jakarta.Inilah calon kutub perubahan di daerah Banyumas.
Seminggu setelah palu diketuk dan diputuskan SNA akan digelar di Purwokerto,dibentuklah panitia gabungan antara dosen dan mahasiswa.Banyak masalah yang harus diselesaikan.Dana,akomodasi dan banyak hal yang harus segera dipecahkan.Secara geografis,Purwokerto adalah daerah yang tanggung tanpa bandara.Dan tebaklah apa yang harus dilakukan mereka-para orang penting- menghabiskan 3 atau 5 jam di alat transportasi yang tak pernah mereka pakai selepas bandara??Maka digodoklah berbagai konsep dan upaya untuk meredam kecapaian para calon peserta SNA selama perjalanan.Upaya itu disebut keramahan.Para Lision Officer(LO) harus berupaya meregangkan kedua bibir mereka selebar dan seramah mungkin.Konsep ini mungkin kuno namun itu bekerja dengan baik.Maka dapat ditarik kesimpulan,jika anda capek,letih,lesu maka tersenyumlah.
Proses terus berlangsung,konsep terus digodok dan permasalah ditekan hingga sama sekali tak ada.Maka hari itu pun dating,13 Oktober.Matahari menyingsing di horizon,membias oranye berhadapan langsung dengan dominan biru muda.Bandara Adi Sucipto dan smua bandara di Pulau Jawa dipenuhi makhluk penjemput berpakaian batik biru,Itulah mereka Akomodasi dan Transportasi.Sementara itu ratusan kilometer di kampus kita telah banyak kerumunan yang mencoba menegakan baliho sepanjang jalan dan kami, mencoba mempersiapkan setiap detail dari apa-apa yang akan dibutuhkan.Semuanya terlihat bersemngat,menggarap proceeding,merapikan tas-tas merchandise,menjinjing peraltan untuk pameran,merapikan make up bagi tim penerima tamu,koordinasi dengan satpam untuk jaminan keamanan,menghubungi Bawor yang sedari tadi belum muncul.Itulah hasrat yang ditunjukan dalam dinamisasi kampus ini,semuanya bergerak,kedepan,melangkah dengan pasti dan mempersiapkan yang terbaik.Sekecil apapun,apakah karena kamu hanya tukang jinjing,semuanya antusias menyambut event yang mungkin takkkan pernah datang kedua kalinya ke kampus ini.
Para peserta mulai datang dan menghambur keluar.Kami dari semua elemen divisi telah menyiapkan jurus andalan kami.Maka setiap mereka yang berbaju batik hijau akan menghambar segaris senyum di bawah hidung mereka.Tim Perkap membawa barang pun dengan senyum,mungkin sebenarnya senyum getir karena bawaannya memang berat.Para peserta pun menanyakan segala hal tentang kampus,gedung apalah,dibangun kapanlah,buat apalah dan kami senantiasa mengandalkan jurus andalan tadi senyum,bingung tentunya.Namun apa yang disebut keterbatasan itu dianggap oleh para pesohor dan pendekar akuntansi itulah yang dimaksud dengan kenikmatan perjalanan akademis.
Simposium Nasional…event sebesar itu,mungkin takkan pernah terulang lagi di kampus ini.



